Senin, 16 Desember 2013
1. Genietik
Ada bukti kuat yang
menyatakan perubahan dalam gen berkontribusi pada terjadinya autisme. Menurut
Nasional Institute of Health, keluarga yang memilliki anak autis memiliki
peluang 1-20 kali lebih besar untuk melahirkan anak yang juga autis.
Bayi yang terpapar oleh
obat-obatan saat berada dalam kandungan mempunyai resiko lebih besar mengalami
autisme. Obat-obatan tersebut termasuk valproic dan thalidommide.
3. Usia orangtua
Makin tua orang tua yang
memiliki anak, makin tinggi anak memiliki resiko autisme. Penelitian yang
dipublikasikan tahun 2010 menemukan, perempuan yang berusia 40 tahun memiliki
resiko 50 persen memiliki anak autis dibandingkan permpuan berusia 20-29.
Minggu, 24 November 2013
Dalam menghadapi anak autis , kita harus
mengetahui kebiasaannya , karena pada umumnya mereka tidak suka dikerasi atau
didekte , kita biasakan saja apa yang bisa dia lakukan , seperti bangun pagi
sholat , dan sehari harus sholat lima kali , harus mencuci pakaian dalam bagi
yang telah dewasa , dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kehidupan.
Hal yang
diinginkan oleh anak autistik :
Perilaku adalah komunikasi
- Janganlah menarik kesimpulan apapun
- Carilah gangguan sensoris dahulu
- Berikanku waktu untuk mengatur diriku sendiri sebelum aku
memerlukannya
- Katakanlah padaku apa yang harus aku lakukan dengan cara yang positif
dan bukan cara memerintah
Jangan mengharapkan terlalu banyak.
-
Berilah aku waktu untuk beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain
6. Janganlah membuat suatu keadaan buruk menjadi tambah buruk lagi
7. Kritiklah dengan lembut
8. Berikanlah pilihan yang benar
Daftar pustaka : Hasdianah . 2013 . Autis Pada Anak . Yogyakarta : Nuha
Medika.
Minggu, 17 November 2013

Karakteristik
anak penyandang autism yang mungkin teerlihat dalam observasi perilaku anak
sehari-hari di dalam kelas, antara lain adalah sebagai berikut :
a. Adanya perkembangan yang terlambat dibandingkan dengan anak-anak seusianya,
baik secara motorik, bahasa maupun dalam interaksi sosial.
b. Anak autism lebih tertarik pada benda dibandingkan dengan manusia
c. Mereka tidak mau dipeluk atau diperlakukan dengan kehangatan oleh
gurunya.
d. Mereka memiliki kelainan sensoris misalnya tidak peka terhadap rasa sakit
atau malah sangat terganggu dengan suara radio normal.
e. Mereka menunjukkan adanya suatu pola tertentu yang dipertahankan dan
diulang-ulang dalam hal perilaku, minat, dan kegiatan. Mereka dapat dalam waktu
lama terokupasi pada suatu kegiatan tertentu, misalnya selalu menyala-matikan
lampu kelas, atau bergerak tidak wajar, misalnya berputar-putar tanpa merasa
pusing.
Barkell, D. E. (1992). Autism: Identification, Education and Treatment.
New Jersey: Laurence Erlbaum Associates, Inc.
Untuk melakukan diagnosis autism, para
ahli di dunia mendasasrkan diri pada kriteria autistic disorder yang
tercantum dalam DSM-IV TR 2000 (Diagnostic and Statistical Manual) yang
dikeluarkan oleh The American Psychiatric Association (APA). DSM IV ini
memuat 3 bidang impairment (kerusakan/kesulitan) utama yang ada pada anak
autism, yaitu impairment dalam interaksi sosial, impairment dalam komunikasi,
serta munculnya suatu pola tertentu yang dipertahankan dan diulang-ulang
(stereotyped & repetitive) dalam hal perilaku, minat, dan kegiatan. Ke-3
bidang impairment ini dijabarkan dalam 12 kriteria. Seorang penyandang autism
minimal 6 gejala/perilaku dari 12 perilaku yang menjadi ciri-ciri autism.
Budhiman, M., Dr, DSJ. (1997). Pentingnya Diagnosis Dini dan Penatalaksanaan
Terpadu pada Autism. Simposium Autism pada Masa Kanak. Jakarta: Yayasan
Autisma Indonesia
Berikut adalah uraian sederhana dari berbagai literatur yang ada dan ringkasan
penjelasan tidak menyeluruh dari beberapa treatment yang diakui saat ini.
Menjadi keharusan bagi orang tua untuk mencari tahu dan mengenali treatment
yang dipilihnya langsung kepada orang-orang yang profesional dibidangnya.
Sebagian dari teknik ini adalah program menyeluruh, sedang yang lain dirancang
menuju target tertentu yang menjadi hambatan atau kesulitan para penyandangnya.Educational Treatment, meliputi tetapi tidak
terbatas pada: Applied Behavior Analysis (ABA) yang prinsip-prinsipnya
digunakan dalam penelitian Lovaas sehingga sering disamakan dengan
Discrete Trial Training atau Intervensi Perilaku Intensif. Pendekatan developmental yang dikaitkan dengan
pendidikan yang dikenal sebagai Floortime.
- TEACH (Treatment and Education of Autistic and
Related Communication – Handicapped Children).
- Biological Treatment, meliputi tetapi tidak
terbatas pada: diet, pemberian vitamin dan pemberian obat-obatan untuk
mengurangi perilaku-perilaku tertentu (agresivitas, hiperaktif, melukai
diri sendiri, dsb.).
Jumat, 15 November 2013
Autisme
bukan halangan untuk terus berkarya dan meraih prestasi. Kedelapan orang ini
berhasil membuktikan bahwa kelainan perkembangan sistem saraf yang mereka alami
sejak lahir atau balita tidak menyurutkan mimpi mereka.
Setelah
membacanya, mungkin kita lebih memahami bahwa autisme bukan cacat, melainkan
orang yang punya keistimewaan. Bakat-bakat super yang terpendam, menanti
diasah.Berikut ini daftarnya.
1. Daniel Tammet
Daniel
Tammet adalah sarjana autis yang dapat menyelesaikan perhitungan matematis
paling membingungkan di dunia dan mampu menguasai bahasa asing dalam hitungan
hari. Daniel dapat berbicara dalam sepuluh bahasa yang berbeda, termasuk
Rumania, Gaelik, Welsh, dan Islandia. Kita bisa menyebutnya sebagai salah satu
orang paling genius di bumi saat ini.
"Ketika
saya mengalikan angka-angka itu bersamaan. Saya melihat ada dua gambar. Gambar
itu kemudian mulai berubah dan berkembang, dan bentuk ketiga pun muncul, dan
itu jawabannya", kata Danile kepada The Guardian.
Diperkirakan 10% dari populasi orang autis memiliki kemampuan yang dimiliki
oleh Daniel. Menariknya, hingga sekarang, tidak ada ilmuwan yang bisa
menjelaskan mengapa bisa demikian. Kebanyakan dari mereka bahkan tidak bisa
menjelaskan bagaimana mereka bisa melakukannya, tetapi Daniel bisa.
Hingga kini apa yang menyebabkan seseorang dapat menderita
autisme belum diketahui secara pasti. Riset-riset yang dilakukan oleh para ahli
medis
menghasilkan beberapa hipotesa mengenai penyebab autisme. Dua hal yang diyakini
sebagai pemicu autisme adalah faktor genetik
atau keturunan dan faktor lingkungan seperti pengaruh zat kimiawi ataupun vaksin.
Faktor genetik
Faktor genetik diyakini memiliki peranan yang besar bagi
penyandang autisme walaupun tidak diyakini sepenuhnya bahwa autisme hanya dapat
disebabkan oleh gen
dari keluarga. Riset
yang dilakukan terhadap anak autistik menunjukkan bahwa kemungkinan dua anak kembar
identik mengalami autisme adalah 60 hingga 95 persen sedangkan kemungkinan
untuk dua saudara kandung mengalami autisme hanyalah 2,5 hingga 8,5 persen. Hal
ini diinterpretasikan sebagai peranan besar gen sebagai penyebab autisme sebab
anak kembar identik memiliki gen yang 100% sama sedangkan saudara kandung hanya
memiliki gen yang 50% sama.